Dalamsetiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu yang terjadi. 17 Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan atau pegangan teoritis
Sesuaidengan ketetapan hukum syara', maka barang yang diperjualbelikan harus memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun dan hal-hal lain yang berkaitan dengan jual beli sehingga bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan kehendak syara'. Adapun barang-barang yang tidak boleh diperjualbelikan diantaranya:
Adasyarat yang menjadikanya mengikat para pihak yang melakukan akad jual beli: 1. Terbebas dari sifat atau syarat yang pada dasarnya tidak mengikat para pihak; 8 Ibid.,V/43-44 9 Ibnu Nujaim sebagaimana dikutip oleh Imam Mustofa, al-Asybah wa al-Nashair, (Beirut: dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1985), hal. 337.
Fast Money. Ilustrasi jual beli dalam Islam. Foto pixabayJual beli dalam Islam masuk ke dalam kajian fiqih muamalah. Kajian ini membahas tentang hukum dan aturan Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi dan pergaulan buku Fiqh Muamalah oleh Ainul Yaqin Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu' Syarah al-Muhadzdzab menyebutkan bahwa jual beli adalah kegiatan tukar menukar harta dengan harta secara kepemilikan. Hukum jual beli dalam Islam telah banyak disebutkan dalam Alquran dan hadist, salah satunya Surat Al-Baqarah ayat 275. Allah SWT berfirman yang artinya“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya terserah kepada Allah.”Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan jual beli dalam Islam lengkap dengan syarat dan dan Syarat Jual Beli dalam IslamRukun jual beli dalam Islam ada empat, yaitu'Aqid subjek jual beli, yakni penjual dan 'alaih Objek jual beli, yakni harga dan al-'Aqdi shighat / pernyataan jual beli, yakni ijab dan 'al-' Aqdi tujuan jual beli, yakni untuk saling memenuhi kebutuhan antar jual beli dalam Islam. Foto pixabayMengenai syarat jual beli dalam Islam seperti yang dikutip dari buku Fiqh Muamalah oleh Drs. Harun, MH adalah sebagai berikutPenjual subjek jual beliPenjual dan pembeli harus berakal, baligh, dan rusyd. Adapun anak kecil yang sudah mumayiz hukumnya adalah sah. Mumayiz di sini artinya dapat membedakan mana yang benar haq dan salah bathil.Barang ada wujudnya ketika transaksi akad. Jika barang tersebut tidak ada ketika akad, namun pihak penjual menyatakan kesanggupannya untuk mengadakan barang itu misalnya di gudang.Barang tersebut bermanfaat bagi manusia. Karenakhamr, daging babi, dan narkoba tidak diperbolehkan untuk yang diperjualbelikan sudah dapat diserahkan ketika yang disepakati kedua pihak pembeli dan penjual harus jelas jumlah bisa diserahkan ketika akad, baik dengan uang tunai, cek, ataupun kartu jual beli dilakukan dengan cara barter tukar menukar sesama barang, maka bisa disesuaikan dengan barang yang memiliki nilai harga, kuantitas dan kualitas yang qabul pernyataan jual beliUngkapan ijab qabul harus dibaca dengan jelas antara kedua belah pihak pembeli dan penjual.Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis, artinya pembeli dan penjual harus dalam satu tempat yang ijab qabul boleh dilakukan secara lisan, tulisan, dan isyarat.
Sebagai makhluk ekonomi, manusia dituntut memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu ia bercocok tanam, berburu atau menjadi nelayan untuk menangkap ikan. Seiring dengan gaya hidup manusia yang senantiasa dinamis, maka timbul hasrat atau keinginan untuk memiliki dan menguasai barang yang ada di tangan orang lain. Cara “primitif” dan barbar sudah ditinggalkan, berganti dengan cara muamalah yang saling menguntungkan dan tidak menimbulkan kerugian sesama. Untuk inilah kemudian berlaku syari’at jual kebolehan syariat jual beli adalah Al-Qur'an, hadits dan ijma'. Di dalam kitab Kifâyatul Akhyar, Syekh Taqiyuddin Al Husny menjelaskan pengertian jual beli menurut Islam, yakni sebagai berikutالبيع في اللغة إعطاء شيء في مقابلة شيء وفي الشرع مقابلة مال بمال قابلين للتصرف بإيجاب وقبول على الوجه المأذون فيهArtinya “Jual beli secara bahasa adalah bermakna memberikan suatu barang untuk ditukar dengan barang lain barter. Jual beli menurut syara’ bermakna pertukaran harta dengan harta untuk keperluan tasharruf/pengelolaan yang disertai dengan lafadh ijab dan qabul menurut tata aturan yang diidzinkan sah.” Lihat Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatul Akhyar fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya Al-Hidayah, 1993 1/239Dengan mencermati pengertian jual beli menurut syara’ ini, maka bisa diketahui terdapat tiga rukun jual beli. Imam Al-Rafi’i menyebut ketiganya tidak sebagai rukun. Beliau lebih suka menyebutnya sebagai syarat sahnya jual beli, antara lain • Ada dua orang yang saling bertransaksi mutaâqidain, yang terdiri atas penjual dan pembeli• Adanya shighat/lafadh yang menunjukkan pernyataan jual beli, antara lain lafadh ijab dan lafadh qabul. • Barang yang ditransaksikan ma’qud alaih. Unsur dari al-ma’qud alaih ini terdiri harga’ thaman dan “barang yang dihargai” muthman. Ada catatan khusus terkait dengan shighat jual beli. Imam al-Rafi’i sebagaimana dikutip oleh Syekh Zakaria Al-Anshory dalam kitab Fathul Wahâb menyatakan bahwa, dari ketiga rukun jual beli di atas, shighat merupakan rukun utama sehingga oleh al-Rafii ia dimasukkan sebagai syarat utama jual beli. Tanpanya, jual beli tidak sah. Inilah yang kelak menjadi dasar mengapa bai’ mu’âthah jual beli tanpa lafadh ijab-qabul tidak diperbolehkan dalam mazhab Syafi’i dan hanya bisa ditemukan di mazhab tidak harus diucapkan dalam bentuk kalimat jelas sharih. Misalnya, “Aku jual baju ini ke kamu.” Kemudian dijawab oleh pembeli, “Aku beli baju ini dari kamu.” Bentuk shighat jual beli bisa diucapkan dengan kata kiasan kinayah, asalkan secara adat kebiasaan kalimat itu mengandung pengertian serah terima barang dalam bentuk jual beli. Misalnya, ucapan seorang pembeli kepada penjual, “Aku ambil baju ini sekarang ya. Besok saya kasih uangnya ke kamu.” Kalimat “ambil” dan “kasih”, dua-duanya menurut adat masyarakat kita bisa bermakna jual beli dalam kondisi tertentu. Macam-macam Jual beli menurut Keberadaan BarangnyaDilihat dari keberadaan barang yang diperjualbelikan, maka ada tiga macam jual beli dan hukumnya. • Barangnya langsung ada di tempat ainun hadlirah. Hukum jual beli barang yang langsung ada di tempat seperti ini adalah boleh. Sah dan tidaknya akad tergantung pada proses yang dijalani oleh muta’aqidain penjual dan pembeli. Bilamana prosesnya benar, maka sah jual belinya. Dan sebaliknya apabila tidak benar proses jual belinya, maka tidak sah pula akadnya sehingga tidak sah jual العين الحاضرة فإن وقع العقد عليها بما يعتبر فيه وفيها صح العقد وإلا فلاArtinya “Adapun jual beli barang ditempat, apabila proses transaksinya sesuai dengan syariat, maka sahlah akadnya. Sebaliknya, bila tidak sesuai dengan syariat, maka tidak sah akadnya.” Lihat Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatu al-Akhyar fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya Al-Hidayah, 1993 1/239• Adakalanya barang masih berupa sesuatu yang belum ada di tempat namun bisa ditunjukkan spesifikasinya dan bisa dimiliki serta dijamin ainun maushufun fi al dzimmah. Jual beli seperti ini biasanya dilakukan dengan jalan order barang. Ada akad salam dan ada akad istishna’i inden, red. Hukum dari jual beli barang yang bisa diketahui spesifikasinya dan bisa dijamin ini hukumnya adalah boleh jâiz• Adakalanya barang sama sekali tidak berada di tempat dan tidak diketahui wujudnya ainun ghaibah, bahkan spesifikasinya. Penjelasan lebih rinci tentang ini insyaallah disampaikan pada tulisan Sah Aqid Penjual/PembeliDilihat dari sisi orang yang melakukan akad muta’âqidain, maka syarat sah jual beli ada 2, yaitu 1. Kedua pihak penjual dan pembeli sama-sama ahli dalam jual beli. Maksud dari ahli di sini adalah bukan seorang anak kecil shabiy, tidak gila majnun, dan tidak bodoh safîh. Jika melihat ketiga unsur ini maka pada dasarnya, jual beli itu sah bila pelaku adalah seorang yang berakal. Ketika kedua penjual dan pembeli dalam kondisi sedang terkena musibah sehingga kehilangan akal untuk sementara, maka jual belinya tidak sah. Dan apabila proses hilangnya akal ini disebabkan karena faktor kebiasaan buruk, misalnya seperti pemabuk, maka jual beli yang dilakukan oleh ahli sakran pemabuk dalam kondisi mabuknya, hukumnya tetap sah,2. Kedua muta’âqidain memiliki hak memilih khiyar. Adalah tidak sah jual belinya orang yang dipaksa/terpaksa mukrah, kecuali bila dipaksa oleh hakim dengan alasan yang benar. Contohnya, terpaksa menjual barang yang menjadi haknya untuk melunasi utangnya sendiri. Maka, meskipun terpaksa dalam menjualnya kepepet, maka hukumnya adalah sah. Contoh lain, seorang hakim memaksa agar orang membeli barang yang dirusaknya—membeli dalam rangka menebus atau bertanggung jawab atas risiko dari ulahnya. Hukum jual beli semacam ini hukumnya adalah boleh. Kedua syarat sah ini berdasarkan keterangan Syekh Taqiyuddin Abi Bakar al-Hushny dalam kitab Kifâyatul Akhyâr 1/239, sebagai berikutويشترط مع هذا أهلية البائع والمشتري فلا يصح بيع الصبي والمجنون والسفيه ويشترط أيضا فيهما الإختيار فلا يصح بيع المكره إلا إذا أكره بحق بأن توجه عليه بيع ماله لوفاء دين أو شراء مال أسلم فيه فأكرهه الحاكم على بيعه وشرائه لأنه إكراه بحق. ويصح بيع السكران وشراؤه على المذهبArtinya “Disyaratkan bahwa jual beli dilakukan oleh ahlinya, baik penjual maupun pembeli. Tidak sah jual belinya anak kecil, orang gila dan orang yang safih. Disyaratkan juga ada waktu memilih ikhtiyar. Tidak sah jual belinya mukrah, kecuali bila dipaksa dengan suatu haq seperti memaksa menjual hartanya untuk membayar hutangnya. Atau membeli barang yang diserahkan kepada mukrah, lalu dipaksa oleh hakim agar menjualnya kembali atau sebaliknya membelinya. Paksaan oleh hakim terhadap mukrah adala sah atas nama ada haq orang lain yang diperhatikan. Sah pula jual-belinya seorang pemabuk menurut mazhab Syafii.” Lihat Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatu al-Akhyar fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya Al-Hidayah, 1993 1/239.Semoga tulisan singkat ini bisa menjadi pengantar memahami dasar-dasar transaksi jual beli bai’. Wallahu a’lam. Muhammad Syamsudin
- Simak bentuk-bentuk jual beli yang terlarang dalam Islam di artikel ini. Jual beli adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan manusia untuk mempertahankan kehidupan mereka di tengah-tengah masyarakat. Pada masa sekarang, tempat dan cara berjual beli mengalami perubahan. Jual beli yang biasa dilakukan sehari-hari menggunakan mata uang sebagai alat tukar yang sah. Namun, dalam Islam terdapat bentuk-bentuk jual beli yang terlarang. Lalu, apa saja bentuk-bentuk jual beli yang terlarang dalam Islam? Baca juga Apa Itu Jual Beli? Berikut Pengertian, Hukum, Macam-macam, Rukun dan Syaratnya Baca juga Apa itu Pinjam Meminjam? Berikut Pengertiannya Lengkap dengan Hukum, Syarat dan Rukunnya Dikutip dari buku siswa Fikih Madrasah Ibtidaiyah Kelas VI, berikut bentuk-bentuk jual beli yang terlarang dalam Islam Bentuk-bentuk Jual Beli yang Terlarang dalam Islam Jual beli yang sah tapi terlarang apabila memenuhi syarat dan rukun tetapi melanggar larangan-larangan syara' atau merugikan kepentingan umum. Berikut bentuk-bentuk jual beli yang terlarang 1. Jual beli yang tidak sah karena kurang syarat rukun a. Jual beli dengan sistem ijon Jual beli dengan sistem ijon adalah jual beli yang belum jelas barangnya. Contohnya buah-buahan yang masih muda, padi yang masih hijau yang mungkin dapat merugikan orang lain.
jual beli yang syarat dan rukunnya tidak terpenuhi disebut